Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Thursday, April 19, 2007

Cerpen: Korupsi.

Ini adalah sebuah legenda tentang seorang pembela kebenaran. Kisah ini bermula di suatu desa, di bumi indonesia, pada masa era reformasi…

Keningnya berkerut, kumisnya turun naik, tatapan matanya jauh menerawang. Bona menggaruk-garuk kepalanya yang botak dan berketombe itu. Itu tandanya Bona sedang berpikir. Udah beberapa lama ini Bona mendengar gosip bahwa Pak Lurah korupsi uang beras miskin. Dari total bantuan beras miskin 25 juta rupiah, Pak Lurah hanya membagikan 15 juta rupiah aja. 10 juta rupiah nya, entah raib dimana. Tapi ini baru gosip. Bona gak yakin sama kebenaran gosip ini. Masa sih Pak Lurah korupsi. Pak Lurah kan udah kaya. Mobil nya aja Xenia, mengkilat, mulus. Padahal orang di kampung sukamiskin ini jarang yang punya mobil. Satu - satunya orang yang punya mobil selain Pak Lurah cuma Haji Basri. Itu pun cuma Suzuki Carry tahun 90an. Gak mulus dan gak mengkilat kayak mobilnya Pak Lurah.Bunyinya aja beda.
Bunyi mobil Pak Lurah: ce ce ces, brummm.
Bunyi mobil Haji Basri: ce ce ce ce ce ce ce ce ce ce ce ce ces, ngik ngik ngik ngik, brum ngik ngik, ce ce ce ce ce ces ces ces, brum, ngik ngik ngik.
Mobil Pak Lurah pakai bensin murni. Mobil Haji Basri pakai bensin campur, campur dorong. Beda lah pokoknya mah. Bona yakin, Pak Lurah gak bakal sampai hati mengkorupsi uang beras miskin. Namanya aja beras miskin. Artinya kan bantuan beras untuk rakyat miskin yang gak bisa beli beras. Memang Bona kurang simpati sama Pak Lurah karena menghalang-halangi hubungannya dengan Nyi Iteung, kembang desa anaknya Pak Lurah. Tapi bagaimana pun Bona yakin bahwa Pak Lurah tuh orangnya baik, gak akan sampai hati merampok warga desa. Pak Lurah seringkali memberi pertolongan sama warga desa yang sedang kesusahan. Ngasih pinjem beras barang seliter dua liter mah biasa. Bahkan pernah Pak Lurah pernah ngasih keluarga Bona 5 liter beras, waktu malam lebaran. Masa sih Pak Lurah korupsi beras miskin. Gak mungkin ah, pikir Bona.

"Pak Lurah KoRRRupSSSi."
"Pak Lurah KoRRRupSSSi."
"Pak Lurah KoRRRupSSSi."

Begitu banyak suara di sekitar Bona. Semua orang berteriak. "Pak Lurah KoRRRupSSSi". Bapak - bapak, ibu-ibu, sampai mba-mba seksi juru ketik desa. Kepala Bona pening. Bona gak tahan dengan suara - suara yang begitu menggema itu. Bona berlari ke hutan, lalu ke pantai. Hehe, gak deng. Ke sawah aja, lebih deket. Di tengah jalan Bona ketemu nenek-nenek, rambutnya beruban, kulitnya keriput, pakai bikini merah muda. Lho? Bona merasa ada yang aneh sama nenek-nenek itu. Oh, bulu keteknya lupa dicukur, pikir Bona. Tiba-tiba nenek-nenek itu memanggil Bona.

"Ujang, kesini sebentar"
"Ada ada nek?"
"Pak Lurah KoRRRupSSSi."

Eh, si nenek ikut-ikutan juga. Bona lalu kembali berlari ke sawah. Bona sampai di saung, salah satu tempat paling cozy kesukaannya. Tiba-tiba ada kodok lompat kearahnya. Wah, lumayan nih, pikir Bona. Buat nambah-nambah lauk makan siang. Kodok itu membuka mulutnya, dan lalu...

"Pak Lurah KoRRRupSSSi."

"Hwaaaaaaaaaaaa!!!!!" Bona terbangun dari mimpinya. Piuuuhhh, untung cuma mimpi, pikir Bona. Tapi Bona merasa ini adalah firasat, tandanya dia harus bergerak. Maka Bona pun mulai bergerak mengikuti alunan kopi dangdut. Bukkkaaannn. Bukan gerakan yang itu, pikir Bona. Bona harus bergerak menyelidiki sendiri kebenaran gosip ini. Kebenaran harus terungkap! Kalo memang benar gosip Pak Lurah korupsi, Pak Lurah harus bertanggung jawab. Kalo gosip itu tidak benar, maka nama baik Pak Lurah harus dipulihkan. Bona gak mau rasa resah ini terus membayanginya, menjelma menjadi nenek - nenek pakai bikini merah muda dalam mimpinya. Lebih baik Bona mimpi ketemu Nyi Iteung pakai bikini kuning golkar daripada mimpi ketemu nenek - nenek pakai bikini merah muda. Bona pun mulai merencanakan aksinya. Dia datang ke rumah Asep, sahabat baiknya.

"Sep, kita harus bergerak".
"Bergerak mengikuti alunan kopi dangdut Bon?"
"Bukaaaannnn. Bukan gerakan yang itu. Bergerak menyelidiki kasus korupsi Pak Lurah."
"Ha?"

Malam itu terlihat dua bayangan berkelebat diantara pepohonan di halaman rumah Pak Lurah yang luas. Keduanya tampak menggunakan kain sarung sebagai penutup kepala untuk melindungi identitas mereka. Senjata ala cimande, Golok Pembunuh Ayam, terselip di pinggang Batman. Sedangkan Doreamin tampak membawa senjata andalannya, tongkat pemukul anjing.

"Bon.."
"Syyuuuut. Jangan panggil nama asli Sep. Panggil nama samaran aja."
"Apa?"
"Batman kasarung. Tapi biar lebih simple, panggil aja saya Batman."
"Lalu nama samaran saya apa?"
"Doraemon.

Keduanya melompat ke atap. Satu lompatan ke udara dan jreng jreng jreng, mereka sudah ada di atas atap. Ilmu meringankan tubuh ala penca cimande yang mereka kuasai membuat lompatan itu terlihat sangat mudah. Bona, sorry, Batman bertanya pada Doraemon:

"Mon, saya punya sedikit pertanyaan."
"Apa Man?"
"Kenapa kamu pakai celana kolor di luar?"
"Supaya seperti superhero di pelm-pelm Man."
"Kenapa pakai yang warna merah?"
"Kalo pakai yang ijo nanti disangka kolor ijo Man."
"Owwhh.."
"Kamu sendiri kenapa pake sarung belang-belang gitu Man?"
"Kan yang belang memang lebih asyik."

Batman memberi isyarat kepada Doraemon untuk melompat. Mereka sudah ada di ruang tengah Pak Lurah sekarang. Rumah Pak Lurah adalah rumah gaya raden - raden jaman jadul. Rumah luas dengan ukiran disana sini dan ruangan khas di tengah rumah yang sengaja dibiarin bolong, gak ada atapnya. Biasa dipakai untuk berjemur, baik itu menjemur badan ataupun menjemur rangginang. Karena itu Batman dan Doraemon bisa dengan mudah menyusup ke rumah Pak Lurah. Dari pantulan cahaya rembulan terlihat Batman memberikan instruksi kepada Doraemon.

"Mon, kita berpencar. Kita geledah rumah ini. Cari bukti apakah benar Pak Lurah melakukan korupsi."
"Seperti?"
"SEPERTI KOPER BERISI UANG 10 JUTA YANG ADA TULISANNYA “INI HASIL KORUPSI”!!, ujar Batman kesal.
"Kalo tulisannya 'ini bukan hasil korupsi' gimana?"
"Gkckckkgckgkgkckgk."

Batman dan Doraemon berpencar. Dengan gaya mengendap-ngendap tapi masih tetap terlihat elegan dan kasual, Batman berjalan menuju kamar anaknya Pak Lurah, Nyi Iteung. Nyi Iteung masih tertidur lelap. Meni geulis Nyi Iteung teh, pikir Batman. Batman mengelus-elus rambut Nyi Iteung yang hitam tergerai. Colongan. Raut wajah Nyi Iteung yang tetap cantik walopun sedang tidur itu sempat membuat niat Batman goyah. Tapi Batman memantapkan hatinya. Maapkan Aa Nyi Iteung, tapi kebenaran harus terungkap.

Batman gak menemukan bukti apa-apa di kamar Nyi Iteung. Batman beranjak ke kamar Pak Lurah. Pak Lurah dan istrinya masih tertidur pulas. Batman membuka lemari, tapi malah menemukan ayam. Oh, mungkin takut ilang. Makanya tu ayam ditaro di lemari, pikir Batman. Itu biasa. Batman merangkak ke kolong tempat tidur. Tangan Batman meraih sesuatu yg berwarna hitam. Eh, ternyata itu kambingnya Pak Lurah. Bukan yang ini. Batman memasukkan kambing itu kembali ke kolong tempat tidur. Batman lalu meraih koper yang ada disebelah kambing. Koper hitam. Di bagian luar koper itu tertulis 'Ini bukan hasil korupsi'. Wah, jangan-jangan bener kata si Doraemon, pikir Batman. Pak Lurah memang cerdik, menyembunyikan koper dibaik kambing. Koper itu terkunci. Tapi dengan ajian penca cimande, Ilmu Elang Membuka Koper, Batman bisa membuka koper yang terkunci itu dengan satu sabetan golok. Dalam koper itu Batman menemukan uang seratus ribuan total 10 juta dan sebuah dokumen. Salah satu dokumen tenyata adalah invoice penyerahan dana bantuan beras miskin dari pemerintah kepada desa sebesar 25 juta rupiah. Padahal selama ini Pak Lurah selalu bilang dana bantuan dari pemerintah cuma 15 juta rupiah. Pak Lurah ternyata korupsi!!

Batman segera keluar dari kamar Pak Lurah, tapi sarungnya tersangkut gelas di atas meja dan membuat gelas itu pecah. Pak Lurah terbangun, terkejut melihat ada orang bertopeng di kamarnya. Pak Lurah reflek meraih Golok Pembunuh Sapi yang tergantung di dinding kamarnya.

“Siapa kamu?”
“Saya teh Batman Kasarung”.
“Batman kok pake teh?”
“Iya. Saya teh Batman.”

Keduanya segera terlibat pertarungan. Bunga api bertebangan di udara. Besi berdentingan. Batman mengeluarkan jurus tendangan kaki kuda. Pak lurah menangkis dan membalas dengan jurus tendangan kaki gajah. Pak lurah mengeluarkan jurus cakar naga, Batman mengelak dan membalas dengan jurus cakar ayam (eh, itu ceker ya?). Ilmu silat yang dimiliki keduanya tampak seimbang. Tapi dalam waktu tak lama senjata pusaka yg dimiliki Pak Lurah mulai membuat Batman kewalahan. Senjata Batman, Golok Pembunuh Ayam, ternyata tak sanggup menandingi kekuatan Golok Pembunuh Sapi milik Pak Lurah. Batman bersuit memanggil bantuan rekannya, Doraemon. Doraemon segera datang memberikan bantuan dan menyerang dengan senjata pamungkasnya, Tongkat Pemukul Anjing. Doraemon menyerang bertubi-tubi. Sayangnya, ternyata tongkat itu hanya efektif untuk memukul anjing, bukan manusia. Doraemon pun kewalahan. Mendengar keributan, Nyi Iteung pun terbangun. Kaget melihat ada dua orang bertopeng, yg satu pakai kolor merah di luar, Nyi Iteung pun pingsan. Tapi sebelum pingsan, Nyi Iteung masih sempat berteriak2 minta pertolongan. Batman dan Doraemon kaget. Doraemon langsung bergegas melarikan diri. Batman? Batman bergegas melarikan Nyi Iteung. Colongan. Kaget anaknya dilarikan, Pak Lurah pun mengejar Batman. Berlari sambil membopong Nyi Iteung di bahu kanan dan mengempit koper di ketek kiri membuat Batman gak bisa berlari kencang. Setelah berlari 200 meter, akhirnya Batman terkejar. Pak Lurah tiba2 saja sudah berdiri di depan Batman. Tiba Batman merasakan seseorang menusuknya dari belakang. Pak Lurah? Bukan. Pak Lurah sih berdiri di depannya dari tadi juga. Batman menengok ke belakang, ternyata Doraemon lah yg menusuknya dengan senjata rahasia, cutter pemotong kertas. Batman jatuh bersimbah darah. Nyi Iteung pun berpindah tangan, dari tangan Batman ke tangan Doraemon. Koper hitam? Koper hitam berpindah ketek, dari ketek Batman ke ketek Doraemon.

“Mon, teganya dirimu. Kenapa?”
“Karena saya mencintai Nyi Iteung, Man.”
“Huhu. Kamu rela mengkhianati teman dan idealisme demi cinta, Mon? ”
“Man, demi cinta, sakit gigi pun aku rela.”
“Mon, lebih baik aku mati saja.”
“Mati aja Man. Gak usah bilang2.”
“Huh, tega!”

Hari itu, di pendopo desa, seminggu setelah pemakaman Bona a.k.a Batman Kasarung.
“Saya nikahkan Nyi Iteung binti Pak Lurah dengan mas kawin satu ekor kambing jantan, satu ekor sapi, sepuluh ekor ayam, dan lima belas ekor anak itik dibayar tunai.”
“Saya terima nikahnya Nyi Iteung binti Pak Lurah dengan mas kawin satu ekor kambing jantan, satu ekor sapi, sepuluh ekor ayam, dan lima belas ekor anak itik dibayar tunai.”
Asep, sang pengkhianat, menikah dengan wanita pujaannya dan hidup bahagia. Pak Lurah sang koruptor, melenggang kangkung sebagaimana halnya banyak koruptor2 Indonesia lainnya. Bona a.k.a Batman Kasarung, sang pembela kebenaran, mati. Seperti banyak pahlawan lain di bumi Indonesia ini, tanpa imbalan, tanpa tanda jasa. Persis seperti pepatah mengatakan, ‘Berakit-rakit kita ke hulu, berenang kita ketepian. Bersakit dahulu, senang pun tak datang, malah mati kemudian.’
Jangan kaget, jangan heran. Kisah ini bukan terjadi di negeri dongeng, dimana pembela kebenaran selalu menang. Kisah ini terjadi di bumi indonesia, negeri para penipu, surga para koruptor.

Thursday, November 02, 2006

Bona dan Celana Pendek Merah Muda Motif Bunga-Bunga

Ini adalah kisah tentang seorang laki2 dan celana pendek warna merah muda motif bunga2 yang mengubah jalan hidupnya. Kamu gak akan menemukan kisah ini di buku PSPB, harian Lampu Merah ataupun koran Kompas. Jadi simak kisah ini baik2, karena mungkin kisah ini akan mengubah hidupmu dan saya gak akan menceritakan kisah ini dua kali.

Nama laki2 itu adalah Encep Subona. Panggilannya Bona. Bona adalah jejaka asli sunda. Asli sunda karena ayahnya adalah sunda garut dan ibunya adalah sunda cililin. Asli sunda karena sejak dilahirkan, SD,SMP, SMA, bahkan sampai kuliah pun, Bona habiskan di tanah priangan. Asli sunda karena dalam sehari Bona menghabiskan lalapan lebih banyak dari kambing manapun. Asli sunda karena Bona seringkali memberikan akhiran –h secara tidak perlu terhadap banyak kata seperti:
- sayah
- kamuh
- guah
- luh
- priah
- wanitah
- kuah
- buah
- gagah
- lemah
- payah
- ramah
- lurah
- dan sebagainyah

Bona adalah salah satu contoh bentuk kehidupan hampa dimuka bumi ini yang kegiatannya berkisar antara makan, tidur, dan mengupil. Berkulit coklat sawo terlalu matang, rambut keriting gondrong mirip Tom Hanks dalam film Cast Away, dengan raut muka tirus tak terurus dan bulu hidung menjulur-julur keluar, Bona yang berstatuskan mahasiswa ini menghabiskan 21 tahun hidupnya dalam keadaan jomblo. Bukan. Bona bukan lah jomblo karena pilihan. Bona adalah jomblo karena keterpaksaan. Satu2nya aktifitas yang memberikan warna dalam kehampaan hidupnya adalah menonton pertandingan Persib Bandung (yang nyaris terseret pada zona degradasi) dan menonton konser Pas Band.
Hari itu adalah ulang tahun Bona yang ke-21. Bona masi tertidur pulas ketika tiba2 ada seorang wanita berumur pertengahan 30 masuk ke dalam kamarnya. Dan wanita itu langsung menjerit keras.

“Bonaaaa! Kamuuu?!”

Bona terbangun. Dia membuka matanya, memandang ke langit2 kosnya, menatap poster Britney Spears dalam balutan bikini merah jambu yang warnanya sudah mulai pudar (mungkin karena keseringan diliatin). Bona tersenyum dan meneruskan tidurnya.

”Bona !!!”

Bona pun terbangun. Benar2 terbangun kali ini.

“Eh, tanteh. Kok tante bisa disinih ?”
“Kamu!?!! Kamu kenapa tidur gak pake celana ?”
“Hmm,, biar adem mungkin tanteh. Tante kenapa kok bisa disinih?”
“Jantung kakekmu kambuh lagi. Ia sekarang sedang dirawat di ICU. Kakekmu ingin sekali bertemu sama kamu. Ia mungkin gak punya banyak waktu lagi.”
“…”
“Kok malah bengong? Ayo cepet ikut tante ke rumah sakit.”
“Iya tanteh. Tapi sebentar yah tante.”
“Gak pake sebentar2. Udah gak usah mandi. Mandinya nanti aja. ”
Bukan tanteh. Anu. Sayah pakai celana dulu yah tante.”

Dalam keadaan rambut kribo, mulut bau naga, baju bau singa, dan ketek asam manis, Bona yang sudah bercelana meluncur bersama tantenya langsung menuju rumah sakit tempat kakek bona dirawat. Disana sudah berkumpul sanak saudara mengelilingi tempat tidur kakeknya. Ketika kakek tahu Bona sudah datang, kakek meminta semuanya supaya meninggalkan ruangan. Kakek ingin berbicara empat mata dengan Bona.

“Bona, uhuk-uhuk… ”
“Ya aki… ”
“Kamu belum mandi yah? Uhuk-uhuk. Kamu bau sekali.”
“Ya aki. Sayah emang blum mandi. Tadi buru2 kok kesininya aki.”
“Bona, huk, huk ,huk… Kemari. Huk, huk, huk. Ayo lari – lari.”
“???”
“Maaph Bona. Aki OOT niyh. Out Op Topik. Bona, hidup aki gak akan lama lagi. Uhuk- uhuk. Jadi dengarkan perkataan aki baik2. huk.”
“Ya aki…”
“Bona. Tadi malam aki dapat wasiat dari leluhur. Huk-huk. Demi keberlangsungan garis keluarga kita, kamu harus pakai jimat ini setiap hari. Huk. Jimat ini hanya boleh dilepas pada hari jumat kliwon. Kalo tidak kamu pakai, kamu akan dikutuk mencret seumur hidup. Kalo kamu pakai, kamu akan mendapat hoki besaaarrr.”
“Jimat apa aki ?”
“Ini.”

Bona pun membuka bungkusan yang ditunjuk aki. Mata Bona terbelalak ketika melihat isi bungkusan itu. Celana pendek warna merah muda motif bunga-bunga. Bona hendak protes.

“Tapi aki!? Aki. Akiiiii…”

Aki gak menjawab. Mata aki sudah terpejam selamanya dan bibirnya menyunggingkan senyuman. Mungkin aki merasa lega sudah menyampaikan amanat terakhirnya. Mungkin aki udah merasa tenang karena yakin cucunya akan selalu pakai celana ketika tidur. Mungkin juga aki merasa senang udah bisa ngerjain cucu nya disaat-saat terakhirnya.

Bona termenung. Termenung karena bersedih karena kehilangan aki-nya yang dia sayangi. Termenung karena berpikir keras, berusaha mencari korelasi antara memakai celana pendek warna merah muda motif bunga-bunga dan mendapatkan hoki besar. Mungkin kalo celana pendeknya berbahan kulit ketat dengan motif kulit harimau Bona akan maklum karena Bona percaya celana pendek seperti ini akan menarik hati banyak wanita. Tapi korelasi antara celana pendek merah muda motif bunga-bunga dan hoki besar sungguh sulit dimengerti. Walau bagaimanapun ini adalah wasiat terakhir aki-nya, dia harus penuhi. Bona tidak ingin melanggar wasiat terakhir kakeknya. Selain itu, Bona pun gak ingin dikutuk mencret seumur hidup. Mendingan juga dikutuk tampan, kaya, dan berkuasa daripada dikutuk mencret, pikir Bona.
Maka dipakailah celana pendek warna merah muda motif bunga-bunga setiap hari. Dan Bona hanya mencuci celana ini sebulan sekali, setiap jumat kliwon.

Bona pun kembali menjalani kehidupannya yang jomblo dan hampa serta gak lupa memberikan sesajen setiap malam jumat kliwon untuk arwah kakeknya berupa sepiring nasi timbel lengkap dengan lauk gurame bakar + tempe goreng + lalapan + sambal cibiuk, secangkir kopi neskafe classic (gula 2 sendok teh), dan sebatang rokok djisamsoe filter.

Suatu saat ketika Bona sedang jalan2 di tepi sungai citarum, Bona mendengar teriakan seorang gadis cantik dari kejauhan diiringi suara blurrr. (Wait. How can he know she’s beatiful? Nevermind). Bona langsung menuju TKP dan melihat seorang Bapak2 berkumis lebat, berkesan jantan, dengan tato ular naga luar biasa panjangnya sedang berteriak2 menunjuk seorang gadis cantik yang megap2 ditengah sungai.

“Anak muda!”
“Yah, Pak Tua.”
“Jangan panggil Pak Tua. Panggil Om aja.”
“Iyah Om. ”
“Itu anak Om sedang megap2 di tengah sungai citarum. Coba yah tolong diselamatkan. ”
“Kenapah gak Om aja yang menyelamatkan ? Kan Om macho, berkumis lebat, dan berkesan jantan?”
“Ssssttt,, Om gak bisa berenang.”
“Jadi ituh tato ular naga luar biasa panjangnya buat apah Om?”
“Udah ah kamu jangan banyak omong. Selamatkan aja putri Om. Nanti kamu Om kawinkan sama anak Om satu2nya itu. Om orang kaya loh. Sawahnya aja luas dan punya 15 kos-kosan di daerah Sudirman.”
“Sudirman Jakarta Om?”
“Bukan. Sudirman Garut.”

Demi mendengar iming2 akan dijodohkan dengan putri si Om yang cantik jelita tiada tara (yang otomatis akan merubah status jomblonya) dan menjadi menantu dari seorang juragan kost, Bona pun dengan kasual serta merta melepas baju dan celana jeansnya. Dengan hanya menggunakan celana pendek merah muda motif bunga2 wasiat sang kakek, Bona segera melompat ke dalam sungai citarum dan menyelamatkan sang putri. Lalu Bona pun memberikan nafas buatan dan pijatan ke arah dada. Sebetulnya hal ini tidak perlu karena sang putri udah siuman. Tapi kapan lagi, pikir Bona. Huhuyy.

“Akang, makasih yah udah nyelamatin neng. Akang baik sekali. Neng mau nikah sama akang.”
“Iyah neng. Akang juga mau. Ngomong2 neng namanya siapah?”
“Nama neng, Neng Jumirna Kuriana. Panggil aja, Ina.”
“Nama akang Bon. Enc-Bon. Tapi panggil aja Bona.”

Akhirnya mereka bertiga, Bona, Neng Ina, dan Om-berkumis lebat-berkesan jantan- juragan kost2an (figuran gak penting, jadi gak perlu disebut namanya) berjalan menuju jalan raya, mencari taksi. Ketika mereka bertiga sedang menyebrang jalan, tiba2 ada truk besar dari arah sebelah kiri. Rupanya supirnya kaget melihat celana pendek Bona dan kehilangan kendali. Bona dengan kasual segera mendorong Neng Ina dan Om-berkumis lebat-berkesan jantan- juragan kost2an ke arah pinggir. Mereka selamat. Sayangnya Bona gak sempat menyelamatkan dirinya sendiri. Bona tertabrak, tergilas, dan terseret truk besar itu sampai sejauh 25 meter.
Bona mati mengenaskan.
Otaknya berceceran keluar dan matanya nyaris keluar. Tangan kiri putus, kaki kanan dari mulai lutut hilang entah kemana, paha kiri terlihat tulangnya, dan usus dua belas jari tertarik keluar.
Hanya celana pendek merah muda motif bunga2nya yang masih utuh.

Bona pun mati sebagai pahlawah bagi Neng Ina dan Om-berkumis lebat-berkesan jantan- juragan kost2an. Jasa Bona selalu dikenang oleh masyarakat RT01/RW02 desa sukamundur yang tinggal di sekitar sungai citarum. Celana pendek bona dijadikan bendera dan dikibarkan setengah tiang, sebagai peringatan agar supir2 gak ngebut di jalanan.


Moral cerita:
Buat cowok2, jangan pernah pakai celana pendek merah muda motif bunga2. Norak.

NB:
Dedicated for my old friend, Junius Bona Siahaan. Gancang lulus euy!!!!

Friday, July 21, 2006

setangkai mawar putih

cerpen ketiga gua nih. In memoriam of Theo Haryanto.

SETANGKAI MAWAR PUTIH

Sore itu sepulang sekolah Arif menemani Riska beli buku di Gramedia. Riska bilang dia pengen beli novelnya Fira Basuki, Biru. Gramedia, yang ada di jalan merdeka, emang gak jauh dari SMUN 3 Bandung, tempat mereka sekolah sekarang. Arif nganter Riska pakai BMW andalannya. Bebek Merah Warnanya. Kendaraan klasik warisan leluhur, sejak 1970. Riska temenan deket sama Arif sejak mereka ambil ekskul yang sama, Majalah Sekolah. Riska adalah pemimpin redaksi. Sedangkan Arif, pembantu umum.
Waktu mereka lagi cari novel itu, lewatlah dua orang taruna akademi militer (akmil), mau bayar di kasir. Tampan. Mereka pakai seragam dinas malam, dengan jas dan baret warna coklat, dan pedang panjang di pinggang. Kalo berjalan prok prok prok. Aku seorang kapiten. Mereka berjalan dengan gagahnya. Sepatunya mengkilat. Cling, cling, cling. Mata ikat pinggangnya mengkilat. Cling, cling, cling. Pedang panjang pun mengkilat. Cling, cling,cling. Jidat mengkilat. Okayh, stop it!
Kalo diperhatiin sekilas sih sebenernya Arif gak beda jauh sama taruna-taruna itu. Mata sama dua, kuping sama dua, rambut sama hitam. Cuman ada beda sedikit sih. Yang satu terlihat sehat walafiat, gagah perkasa, sakti mandraguna. Yang satu terlihat seperti penderita komplikasi cacingan, disentri, dan epilepsi akut selama 5 tahun berturut2. Yang satu akan membuat orang menoleh dan mengundang decak kagum. Yang satu akan membuat orang menoleh dan mengundang belas kasihan. Beda sedikit. Arif juga manusia.
Riska masih bengong, menatap taruna2 itu sampai mereka turun tangga dan hilang dari pandangan. Riska emang suka pria-pria berseragam, apalagi taruna akmil. Riska bilang sama Arif, suatu hari bakal ada seorang taruna datang, mengenakan seragam dinas malam lengkap dengan pedang panjangnya, membawa mawar putih, dan katakan cinta. Riska punya mimpi untuk menikah dengan seorang perwira angkatan darat. Arif berjanji dalam hati, tahun depan dia akan masuk akademi militer dan mewujudkan mimpi Riska.

Singkat kata, setelah melewati proses tes yang rumit dan bertele2 khas birokrasi Indonesia, Arif diterima di akademi militer. Arif gak ngasih tau Riska dia keterima disitu karena dia pengen kasih kejutan buat Riska.
Enam bulan pertama di akmil adalah neraka buat Arif. Tiap hari lari pakai seragam lapangan lengkap dengan sepatu boot, helm baja, ransel, dan senapan. Sarapan paginya jalan jongkok dan lompat kodok. Bel bangun pagi, Yang Bunyinya Kayak Terompet Jaman Romawi Kuno Dan Volumenya Bisa Bikin Panik Orang Satu Kampung (YBKTJRKDVBBPOSK), berdering jam setengah 5 pagi. Arif dan kawan-kawan langsung panik pakai seragam olahraga, lari keliling akmil, yang notabene luasnya 10 kali luas kampus UI depok. Abis itu langsung mandi bareng2. Arif mengalami degradasi moral dalam masalah mandi. Jaman SMA, Arif mandi sendiri sambil bergoyang menyanyikan lagu Anita Bahar. Sekarang, Arif mandi bareng bersama 35 orang teman satu barak, menciduk air dari bak besar memanjang, bugil, bergoyang bersama sambil nyanyi garuda pancasila. Sampai2 ada seorang temannya yang dijuluki provost karena, maaph, “helm”nya berwarna putih. Kalo gak mandi bareng, mana ketahuan coba?! Benar2 degradasi moral. Setelah mandi dan berpakaian, yang total memakan waktu kurang dari 5 menit, para kopral berbaris menuju ruang makan bersama untuk sarapan pagi. Dasar tentara. Sarapan pagi aja pakai baris dulu. Pakai acara apel pula untuk pengecekan personel.
“Lapor! Kopral barak 5. Jumlah 36 orang. Lengkap. Siap melaksanakan sarapan pagi. Laporan selesai!”
“Laksanakan!”
“Laksanakan!”
Sarapan pagi, setelah lari keliling akmil, bukanlah surga untuk para kopral, karena harus duduk satu meja dengan senior2 nya, sersan dan mayor (sersan = tingkat 2, mayor = tingkat 3, red). Meja makan berbentuk persegi panjang. Mayor duduk di ujung meja, saling berhadapan. Istilahnya kepala meja. Sedangkan kopral kayak Arif duduk di samping meja. Istilahnya, kacung. Mau makan, “Ijin makan Bang!”. Mau tambah nasi, “Ijin tambah nasi Bang!”. Mau tambah minum, “Ijin tambah minum Bang!”. Mau nasi goreng, “Nasi goreng satu Bang! Jangan lupa telornya dipisah!”. Abis itu langsung dijitak sama mayornya. Kalo gelas mayornya kosong, kopral harus sigap menuangkan air ke gelas mayornya. Kalo mayor ingin tambah nasi, kopral harus sigap menyediakan nasinya. Kalo mayor ngelucu, kopral harus ketawa. Kalo mayornya ngegaring, kopral harus ketawa juga. Pendeknya, mayor adalah raja, kopral adalah hina dina. Pernah suatu kali Arif gak sigap menuangkan air ke gelas mayornya yang udah kosong, mayornya itu langsung memencet gelasnya sendiri sampe pecah. Malam harinya Arif gak tidur dan direndem di bak kamar mandi sang mayor sampai subuh setelah sebelumnya disuruh push up tiga jari sambil nyanyi lagu indonesia raya.
“Kopral Arif masih kuat?”
“Siap mayor! Masih kuat!”
Arif melanjutkan push up sampai 25 kali.
“Kopral Arif masih kuat?”
“Siap mayor! Masih kuat!”
Arif melanjutkan push up sampai 50 kali.
“Kopral Arif masih kuat?”
“Siap mayor! Tidak kuat. Capek mayor!”
Plakkk!!! Arif kena jitak.
“Bodoh kamu! Harusnya bilang siap mayor masih kuat! Ngerti kamu?”
“Siap mayor. Mengerti!”
“Kopral Arif masih kuat?”
“Siap mayor! Masih kuat!!”

Pelajaran di kelas adalah surga bagi kopral. Sebagian kopral tertidur pulas, sebagian lagi mimpi. Biasanya sih para dosen udah maklum. Kalo ada kopral yang tertidur saat pelajaran di kelas, dosen akan membangunkannya dengan tepukan lembut. Setelah itu menyuruh sang kopral untuk mencuci muka dan lari keliling lapangan bola 12 keliling agar tidak mengantuk lagi.
Jam 12, bel YBKTJRKDVBBPOSK, berbunyi lagi. Waktunya makan siang. Makan siang adalah ajang refreshing bagi para mayor setelah pusing dengan pelajaran di kelas. Bagi kopral, makan siang adalah ajang untuk melatih daya ingat. Kegiatan utama di meja makan adalah ‘Tes Siapa Saya?’. Setelah berkenalan sekali, kopral harus menghapal baik2 nama lengkap, jabatan, serta asal daerah mayornya. Lupa adalah dosa besar. Siang itu seorang mayor segera menutupi papan namanya dan bertanya, “Saya siapa kopral?”. Arif ingat. Dia pernah kenalan sama mayor yang satu ini dan langsung menjawab, “Siap! Sersan Mayor Taruna Wisnu Kristianto. Jabatan, Wakil Komandan Polisi Taruna. Asal, Kodam V Siliwangi, Bandung!”. Pernah suatu kali Arif lupa nama seorang mayor, padahal dulu pernah berkenalan. Mayor itu berkata dengan lemah lembut, “Kopral, nanti sehabis apel malam, main2 ke paviliun saya ya”. “Siap Mayor!”. Malam itu Arif menerima pukulan 12 kali di perut, membersihkan kamar mandi sang mayor, dan sebagai makanan penutup guling2 dua keliling lapangan bola. Arif langsung muntah2.
Bukan sekali dua kali Arif ingin mengundurkan diri dari akmil. Tapi Arif mencoba untuk bertahan. Masih dengan mimpinya. Suatu hari akan datang menemui Riska mengenakan seragam dinas malam lengkap dengan pedang panjangnya, membawa mawar putih, dan katakan cinta.

Hari itu Arif udah enam bulan di Akademi Militer. Udah enam bulan pula Arif gak pulang ke kampung halamannya di Bandung. Ada pengumuman bahwa para kopral dipersilahkan memilih posisi yang diinginkan di Canka Lokalanta. Canka Lokananta adalah grup drum band akademi militer. Setiap taruna wajib menjadi bagian dari Canka Lokananta, hanya saja alat yang dipegang memiliki gengsi tersendiri. Tentu saja yang paling bergengsi adalah posisi Penata Rama, pemimpin drum band, yang berdiri di depan barisan dan melakukan atraksi2 yang berbahaya dengan tongkatnya yang panjangnya 1,5 meter. Hanya saja untuk posisi ini, selain kekuatan badan, faktor ganteng juga diperhitungkan. Arif yang menyadari tampangnya pas2an (pas buat dijitak, pas buat dicela), keluar dari kompetisi. Posisi bergengsi lainnya adalah macan. Macan adalah sebutan bagi pemegang bass drum terbesar. Itu lho, bass drum yang segede2 gaban. Berbeda dengan pemegang bass drum di drum band umum, di akmil macan tidak mengikuti barisan. Dia berjalan2 mengelilingi barisan, sambil sesekali melakukan atraksi yang berbahaya, seperti berjalan sambil menggigit ujung bass drum, mengangkat bass drum dengan satu tangan sambil memukul dengan tangan yang lain, melempar2 bass drum, berguling2 sambil memukul bass drum, nelen bass drum bulat2, dan atraksi2 nekat lainnya. Beda tipis sama debus banten lah. Mereka juga menggunakan kostum yang berbeda dengan yang lain, seragam lapangan loreng2 dengan topeng kepala harimau dan jubah kulit harimau. Pokoknya mah gaya lah!
Arif memilih kompetisi di posisi ini.
Siang hari itu 50 kopral calon macan berkumpul di lapangan untuk di tes. Yang mengetes adalah mayor2 yang memegang posisi macan. Tes pertama adalah tes fisik. Lari bawa bass drum, guling bawa bass drum, angkat bass drum pakai satu tangan, berputar2 dengan bass drum. Pendeknya semua aktifitas membawa bass dum. Ke kamar mandi pun bawa bass drum. Hehe. Gak lah. Hanya 8 orang bertahan sampai tes terakhir. Arif masuk hitungan.
Tes terakhir itu adalah tes mental. Para calon macan disuruh mengangkat bass drum tinggi2 sambil nyanyi maju tak gentar. Tau kan? 'Maju tak gentar, membela yang bayar. Maju serentak, bos kita diserang'. Ya gitu lah pokoknya. Ketika Arif sedang mengangkat bass drum itu tinggi sambil menyanyikan lagu maju tak gentar keras2, tiba2 satu bogem mentah nyasar diperutnya. Buuuukkk!!! Arif terkesiap tapi masih bisa bertahan. Dia udah memprediksi datangnya pukulan itu. Mayor yang mukul Arif kaget melihat pukulannya tidak memberikan dampak yang material. Dia bersiap memberikan tes berikutnya, mundur jarak lima meter, pasang kuda2, lari, lompat. Grusakkk!! Mayor itu kepeleset sebelum melompat dan tersungkur menabrak kandang ayam. Mayor itu bertambah marah. Kali ini dia mengambil ancang-ancang lebih jauh, 10 meter, pasang kuda2, lari, lompat dan Buuaaaaakkkkk!!!!! Sepatu boot mayor itu melakukan pendaratan mulus di perut arif. Arif tersungkur, mengeluarkan darah segar dari mulutnya, dan pingsan. Arif dilarikan ke rumah sakit.

Malam itu Arif datang ke rumah Riska, mengenakan seragam dinas malam, lengkap dengan pedang panjang berkilatnya. Arif membangunkan Riska yang udah tertidur pulas dan mengagetkan Riska dengan kedatangannya yang tiba2 itu. Arif memberi Riska setangkai mawar putih. Riska masih berusaha menambah watt matanya, mengumpulkan nyawa, ketika Arif mengatakan cinta. Cinta yang sudah tiga tahun terpendam dalam hati, bersembunyi dalam topeng persahabatan. Arif gak berlama2 di kamar Riska. Setelah mencium kening Riska, Arif pun beranjak pergi.

21 tembakan kehormatan menggetarkan tanah pemakaman, menggetarkan jiwa setiap orang yang hadir. Jiwa orang tua yang melihat anaknya mati muda sia2. Jiwa seorang teman yang kehilangan sahabat setia. Arif gak pernah berhasil keluar dari rumah sakit. Dokter mengatakan limpanya pecah karena pukulan benda tumpul. Setelah seminggu dirawat dalam keadaan koma, Arif akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Mayor yang melakukan pemukulan dipecat dengan tidak hormat dan sedang menjalani persidangan. Komandan Resimen Koor dan Penata Rama Canka Lokananta diturunkan dari jabatannya, mempertanggungjawabkan kegagalan kepemimpinannya.

Mentari pagi mulai tersenyum cerah saat Riska terbangun dari tidur, tidak yakin atas apa yang dialaminya semalam. Tapi dia tersenyum saat melihat setangkai mawar putih tergeletak diatas meja belajarnya.

Thursday, July 06, 2006

3078 MDPL - sebuah jawaban

cerpen lagi. nyambung yg kemaren. hope u;ll enjoy it. piss.


3078 METER DIATAS PERMUKAAN LAUT - sebuah jawaban

Kampus UNB. September 2002.

Tahun akademik baru. Ospek fakultas. Mahasiswa-mahasiswa baru pada panik nyariin tanda tangan senior. Selama masa ospek, mahasiswa-mahasiswa baru emang diwajibkan u/mendapatkan tanda tangan dari senior dengan quota tertentu. Hal ini bertujuan, tentunya u/memfasilitasi anak baru supaya lebih kenal dengan seniornya dan memfasilitasi senior2 yang masih jomblo u/mendapatkan jodoh.
Tujuan yang mulia.

Matahari tersenyum cerah dan awan masih malu2 menampakkan dirinya. Sedaaap. Di ruang C dosen mata kuliah kewiraan sedang menerangkan betapa pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dan bahwa judi itu haram. Setelah mempertimbangkan bahwa dia cukup hapal sila ke-3 pancasila, Andri memutuskan nitip tanda tangan kepada kawan kepercayaannya dan memilih u/nongkrong di kantin FE.
Kantin ini emang pewe banget. Selain lokasinya strategis u/melihat lalu lintas mahasiswi2 cantik dari fakultas sebelah, juga ga jauh dari ruang kuliah. Jadi kalo ada absen panggil, tinggal masuk kelas. Aman.

Andri. Mahasiswa semester 3 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Bandung. Rambut kribo metalik dan gigi gak rata. Badan kurus layaknya seorang pemadat dan muka jauh dari kesan ganteng apalagi simpatik. Ibu-ibu yang seangkot sama dia sering kali melayangkan tatapan iba dan berdoa dalam hati semoga anak mereka gak seperti Andri jika besar nanti.
Tapi ada membedakan Andri dari mahasiswa2 yang lainnya. Dia punya karisma. Setiap kali melambaikan tangan pasti angkot2 langsung berhenti dan tukang ojek menghampiri. Hehe. Bukan. Bukan karisma yg seperti itu. Pembawaannya yang ceria dan super pede bisa mengeliminir penampilannya yang minim. Dia pintar meyakinkan orang dan gaya bicaranya persuasif. Mantaap.

Eniwei, saat Andri sedang menyeruput es buahnya, tiba2 ada seorang makhluk manis menghampiri.
“Allow kang. Lagi sibuk ga? Boleh kenalan?”
Heueheu. Andri tertegun dan gak mempercayai keberuntungannya hari ini. Serasa bidadari turun dari angkot. Kapan lagi ada cewe cantik datang dan ngajak kenalan duluan kalo bukan di ospek fakultas? Pakai acara tersenyum ramah lagi. Bener2 deh. God must be smiling right now.
“Allow juga”. Andri tersenyum, memamerkan giginya yg gak rata itu.
“Nama saya Astri. Astriana Mahadewi. Nama akang siapa?” Ckckck. Namanya memang seindah orangnya, kata Andri dalam hati.
“Saya Andri. Kamu anak baru ya?”
“Iya kang”.
“Dari SMA mana?”
“Dari SMAN 8 Jakarta kang”.
“Ooh. Pinter dong”.
“Ah, gak juga kang. Akang dari SMA mana?”
“Jangan panggil kang ah. Geli. Panggil mas aja”.
“…”
“Hehe. Panggil Andri aja maksudnya. Saya dari SMAN 70”.
“Ooh. Boleh minta tanda tangannya kang?”
“Oh. Boleh2. Tapi ada syaratnya”.
“Apa kang?”
“Kamu harus cari bunga mawar merah dan kasih saya. Paling telat ntar sore.”




Agustus 2005.

“Sembilan puluh lima, semmbilan puuh luh en..nnnam, sembilan puluh tuuu.. juh, se..ra..tussss. ARGHHHH..”
Andri lagi latihan push up. Udah setaun ini Andri rajin banget olahraga. Push up. Sit up. Lari pagi. Kadang sampe sehari tiga kali Andri latihan. Setiap habis makan. Hehe. Gak lah. Emang minum obat?
Bukan buat ikut element body kontes Andri latihan. Bukan buat jadi jagoan. Andri hanya ingin jadi pria yang lebih kuat. Yang bisa memberikan rasa aman. Buat Astri.
Andri juga ga pernah bolos kuliah lagi. Setiap tugas dia kerjakan. Andri belajar mati-matian. Seringkali begadang sampai larut malam. Mati diganjel korek api udah biasa. Dan bukan sekali dua kali Andri tertidur di meja belajarnya. Dia pengen cepat lulus kuliah, cum laude kalo bisa. Andri juga lebih rajin sholat. Walopun bacaannya ga jauh dari kulhu dan An-naas.
Semua demi Astri.

Masih teringat jelas di benaknya kata – kata Astri setahun lalu, sehari setelah dia ngasih edelwis buat Astri.

Belum pernah dri.
Belum pernah Astri mendapatkan cinta setinggi ini.
Setinggi puncak gunung, sejajar dengan awan-awan.
Astri betul-betul tersanjung. Sungguh.
Tapi tolong, jangan lagi minta Astri jadi pacar Andri.
Astri mau lebih dari itu.
Lamar Astri.
Kalau memang cinta Andri seperti bunga edelwis yang tak pernah layu,
Astri mau menunggu.
Sampai Andri siap.
Karena cinta sejati mau menunggu.


Seminggu kemudian Astri pindah ke medan. Ayahnya dipercaya u/menjadi kepala cabang salah satu bank BUMN disana. Astri anak tunggal dan ibunya udah meninggal. Astri ingin menemani ayahnya disana.

Setiap kali Andri down, setiap kali dia kangen sama Astri, ditatapnya mawar merah kering yang udah terbingkai dalam kaca. Mawar merah pemberian Astri waktu pertama kali berkenalan. Hanya dengan menatap mawah merah itu sejenak, Andri mendapatkan semangatnya kembali.

Dan semuanya terbayarkan. Andri lulus kuliah tepat waktu. Cum laude. Sudah dua bulan ini Andri bekerja di salah satu perusahaan minyak asing di Jakarta. Andri menunggu wisudanya minggu depan. Astri berjanji akan datang.


Jakarta. 5 September 2005.
Andri sedang asyik push up sambil nonton TV. Ada breaking news. Mandala Air Lines yang bertolak dari bandara polonia medan mengalami kecelakaan. Pesawat yang ditumpangi Astri. Andri panik. Dia langsung bertolak ke bandara saat itu juga u/mencari informasi. Baru sore hari Andri dapat keterangan yang jelas. Nama Astri ada di daftar korban. Andri pingsan.

Jakarta. 5 Maret 2006.
Andri meletakkan sekuntum mawar merah di pusara Astri. Dia berdoa sejenak. Udah enam bulan berlalu sejak kepergian Astri tapi baru kali ini Andri bisa menguatkan diri u/mengunjungi pusaranya. Andri gak menangis. Dia tau Astri ingin dia tetap tegar.

Dan pabila mentari pagi dan purnama bersatu.
Cahyanya takkan mampu melebihi keindahanmu.


nb : Dedicated for Natalia Magdalena Sitanggang. Seorang korban kecelakaan Mandala Air Lines Polonia, Medan. Seorang teman. May God bless you.