Thursday, April 19, 2007

Cerpen: Korupsi.

Ini adalah sebuah legenda tentang seorang pembela kebenaran. Kisah ini bermula di suatu desa, di bumi indonesia, pada masa era reformasi…

Keningnya berkerut, kumisnya turun naik, tatapan matanya jauh menerawang. Bona menggaruk-garuk kepalanya yang botak dan berketombe itu. Itu tandanya Bona sedang berpikir. Udah beberapa lama ini Bona mendengar gosip bahwa Pak Lurah korupsi uang beras miskin. Dari total bantuan beras miskin 25 juta rupiah, Pak Lurah hanya membagikan 15 juta rupiah aja. 10 juta rupiah nya, entah raib dimana. Tapi ini baru gosip. Bona gak yakin sama kebenaran gosip ini. Masa sih Pak Lurah korupsi. Pak Lurah kan udah kaya. Mobil nya aja Xenia, mengkilat, mulus. Padahal orang di kampung sukamiskin ini jarang yang punya mobil. Satu - satunya orang yang punya mobil selain Pak Lurah cuma Haji Basri. Itu pun cuma Suzuki Carry tahun 90an. Gak mulus dan gak mengkilat kayak mobilnya Pak Lurah.Bunyinya aja beda.
Bunyi mobil Pak Lurah: ce ce ces, brummm.
Bunyi mobil Haji Basri: ce ce ce ce ce ce ce ce ce ce ce ce ces, ngik ngik ngik ngik, brum ngik ngik, ce ce ce ce ce ces ces ces, brum, ngik ngik ngik.
Mobil Pak Lurah pakai bensin murni. Mobil Haji Basri pakai bensin campur, campur dorong. Beda lah pokoknya mah. Bona yakin, Pak Lurah gak bakal sampai hati mengkorupsi uang beras miskin. Namanya aja beras miskin. Artinya kan bantuan beras untuk rakyat miskin yang gak bisa beli beras. Memang Bona kurang simpati sama Pak Lurah karena menghalang-halangi hubungannya dengan Nyi Iteung, kembang desa anaknya Pak Lurah. Tapi bagaimana pun Bona yakin bahwa Pak Lurah tuh orangnya baik, gak akan sampai hati merampok warga desa. Pak Lurah seringkali memberi pertolongan sama warga desa yang sedang kesusahan. Ngasih pinjem beras barang seliter dua liter mah biasa. Bahkan pernah Pak Lurah pernah ngasih keluarga Bona 5 liter beras, waktu malam lebaran. Masa sih Pak Lurah korupsi beras miskin. Gak mungkin ah, pikir Bona.

"Pak Lurah KoRRRupSSSi."
"Pak Lurah KoRRRupSSSi."
"Pak Lurah KoRRRupSSSi."

Begitu banyak suara di sekitar Bona. Semua orang berteriak. "Pak Lurah KoRRRupSSSi". Bapak - bapak, ibu-ibu, sampai mba-mba seksi juru ketik desa. Kepala Bona pening. Bona gak tahan dengan suara - suara yang begitu menggema itu. Bona berlari ke hutan, lalu ke pantai. Hehe, gak deng. Ke sawah aja, lebih deket. Di tengah jalan Bona ketemu nenek-nenek, rambutnya beruban, kulitnya keriput, pakai bikini merah muda. Lho? Bona merasa ada yang aneh sama nenek-nenek itu. Oh, bulu keteknya lupa dicukur, pikir Bona. Tiba-tiba nenek-nenek itu memanggil Bona.

"Ujang, kesini sebentar"
"Ada ada nek?"
"Pak Lurah KoRRRupSSSi."

Eh, si nenek ikut-ikutan juga. Bona lalu kembali berlari ke sawah. Bona sampai di saung, salah satu tempat paling cozy kesukaannya. Tiba-tiba ada kodok lompat kearahnya. Wah, lumayan nih, pikir Bona. Buat nambah-nambah lauk makan siang. Kodok itu membuka mulutnya, dan lalu...

"Pak Lurah KoRRRupSSSi."

"Hwaaaaaaaaaaaa!!!!!" Bona terbangun dari mimpinya. Piuuuhhh, untung cuma mimpi, pikir Bona. Tapi Bona merasa ini adalah firasat, tandanya dia harus bergerak. Maka Bona pun mulai bergerak mengikuti alunan kopi dangdut. Bukkkaaannn. Bukan gerakan yang itu, pikir Bona. Bona harus bergerak menyelidiki sendiri kebenaran gosip ini. Kebenaran harus terungkap! Kalo memang benar gosip Pak Lurah korupsi, Pak Lurah harus bertanggung jawab. Kalo gosip itu tidak benar, maka nama baik Pak Lurah harus dipulihkan. Bona gak mau rasa resah ini terus membayanginya, menjelma menjadi nenek - nenek pakai bikini merah muda dalam mimpinya. Lebih baik Bona mimpi ketemu Nyi Iteung pakai bikini kuning golkar daripada mimpi ketemu nenek - nenek pakai bikini merah muda. Bona pun mulai merencanakan aksinya. Dia datang ke rumah Asep, sahabat baiknya.

"Sep, kita harus bergerak".
"Bergerak mengikuti alunan kopi dangdut Bon?"
"Bukaaaannnn. Bukan gerakan yang itu. Bergerak menyelidiki kasus korupsi Pak Lurah."
"Ha?"

Malam itu terlihat dua bayangan berkelebat diantara pepohonan di halaman rumah Pak Lurah yang luas. Keduanya tampak menggunakan kain sarung sebagai penutup kepala untuk melindungi identitas mereka. Senjata ala cimande, Golok Pembunuh Ayam, terselip di pinggang Batman. Sedangkan Doreamin tampak membawa senjata andalannya, tongkat pemukul anjing.

"Bon.."
"Syyuuuut. Jangan panggil nama asli Sep. Panggil nama samaran aja."
"Apa?"
"Batman kasarung. Tapi biar lebih simple, panggil aja saya Batman."
"Lalu nama samaran saya apa?"
"Doraemon.

Keduanya melompat ke atap. Satu lompatan ke udara dan jreng jreng jreng, mereka sudah ada di atas atap. Ilmu meringankan tubuh ala penca cimande yang mereka kuasai membuat lompatan itu terlihat sangat mudah. Bona, sorry, Batman bertanya pada Doraemon:

"Mon, saya punya sedikit pertanyaan."
"Apa Man?"
"Kenapa kamu pakai celana kolor di luar?"
"Supaya seperti superhero di pelm-pelm Man."
"Kenapa pakai yang warna merah?"
"Kalo pakai yang ijo nanti disangka kolor ijo Man."
"Owwhh.."
"Kamu sendiri kenapa pake sarung belang-belang gitu Man?"
"Kan yang belang memang lebih asyik."

Batman memberi isyarat kepada Doraemon untuk melompat. Mereka sudah ada di ruang tengah Pak Lurah sekarang. Rumah Pak Lurah adalah rumah gaya raden - raden jaman jadul. Rumah luas dengan ukiran disana sini dan ruangan khas di tengah rumah yang sengaja dibiarin bolong, gak ada atapnya. Biasa dipakai untuk berjemur, baik itu menjemur badan ataupun menjemur rangginang. Karena itu Batman dan Doraemon bisa dengan mudah menyusup ke rumah Pak Lurah. Dari pantulan cahaya rembulan terlihat Batman memberikan instruksi kepada Doraemon.

"Mon, kita berpencar. Kita geledah rumah ini. Cari bukti apakah benar Pak Lurah melakukan korupsi."
"Seperti?"
"SEPERTI KOPER BERISI UANG 10 JUTA YANG ADA TULISANNYA “INI HASIL KORUPSI”!!, ujar Batman kesal.
"Kalo tulisannya 'ini bukan hasil korupsi' gimana?"
"Gkckckkgckgkgkckgk."

Batman dan Doraemon berpencar. Dengan gaya mengendap-ngendap tapi masih tetap terlihat elegan dan kasual, Batman berjalan menuju kamar anaknya Pak Lurah, Nyi Iteung. Nyi Iteung masih tertidur lelap. Meni geulis Nyi Iteung teh, pikir Batman. Batman mengelus-elus rambut Nyi Iteung yang hitam tergerai. Colongan. Raut wajah Nyi Iteung yang tetap cantik walopun sedang tidur itu sempat membuat niat Batman goyah. Tapi Batman memantapkan hatinya. Maapkan Aa Nyi Iteung, tapi kebenaran harus terungkap.

Batman gak menemukan bukti apa-apa di kamar Nyi Iteung. Batman beranjak ke kamar Pak Lurah. Pak Lurah dan istrinya masih tertidur pulas. Batman membuka lemari, tapi malah menemukan ayam. Oh, mungkin takut ilang. Makanya tu ayam ditaro di lemari, pikir Batman. Itu biasa. Batman merangkak ke kolong tempat tidur. Tangan Batman meraih sesuatu yg berwarna hitam. Eh, ternyata itu kambingnya Pak Lurah. Bukan yang ini. Batman memasukkan kambing itu kembali ke kolong tempat tidur. Batman lalu meraih koper yang ada disebelah kambing. Koper hitam. Di bagian luar koper itu tertulis 'Ini bukan hasil korupsi'. Wah, jangan-jangan bener kata si Doraemon, pikir Batman. Pak Lurah memang cerdik, menyembunyikan koper dibaik kambing. Koper itu terkunci. Tapi dengan ajian penca cimande, Ilmu Elang Membuka Koper, Batman bisa membuka koper yang terkunci itu dengan satu sabetan golok. Dalam koper itu Batman menemukan uang seratus ribuan total 10 juta dan sebuah dokumen. Salah satu dokumen tenyata adalah invoice penyerahan dana bantuan beras miskin dari pemerintah kepada desa sebesar 25 juta rupiah. Padahal selama ini Pak Lurah selalu bilang dana bantuan dari pemerintah cuma 15 juta rupiah. Pak Lurah ternyata korupsi!!

Batman segera keluar dari kamar Pak Lurah, tapi sarungnya tersangkut gelas di atas meja dan membuat gelas itu pecah. Pak Lurah terbangun, terkejut melihat ada orang bertopeng di kamarnya. Pak Lurah reflek meraih Golok Pembunuh Sapi yang tergantung di dinding kamarnya.

“Siapa kamu?”
“Saya teh Batman Kasarung”.
“Batman kok pake teh?”
“Iya. Saya teh Batman.”

Keduanya segera terlibat pertarungan. Bunga api bertebangan di udara. Besi berdentingan. Batman mengeluarkan jurus tendangan kaki kuda. Pak lurah menangkis dan membalas dengan jurus tendangan kaki gajah. Pak lurah mengeluarkan jurus cakar naga, Batman mengelak dan membalas dengan jurus cakar ayam (eh, itu ceker ya?). Ilmu silat yang dimiliki keduanya tampak seimbang. Tapi dalam waktu tak lama senjata pusaka yg dimiliki Pak Lurah mulai membuat Batman kewalahan. Senjata Batman, Golok Pembunuh Ayam, ternyata tak sanggup menandingi kekuatan Golok Pembunuh Sapi milik Pak Lurah. Batman bersuit memanggil bantuan rekannya, Doraemon. Doraemon segera datang memberikan bantuan dan menyerang dengan senjata pamungkasnya, Tongkat Pemukul Anjing. Doraemon menyerang bertubi-tubi. Sayangnya, ternyata tongkat itu hanya efektif untuk memukul anjing, bukan manusia. Doraemon pun kewalahan. Mendengar keributan, Nyi Iteung pun terbangun. Kaget melihat ada dua orang bertopeng, yg satu pakai kolor merah di luar, Nyi Iteung pun pingsan. Tapi sebelum pingsan, Nyi Iteung masih sempat berteriak2 minta pertolongan. Batman dan Doraemon kaget. Doraemon langsung bergegas melarikan diri. Batman? Batman bergegas melarikan Nyi Iteung. Colongan. Kaget anaknya dilarikan, Pak Lurah pun mengejar Batman. Berlari sambil membopong Nyi Iteung di bahu kanan dan mengempit koper di ketek kiri membuat Batman gak bisa berlari kencang. Setelah berlari 200 meter, akhirnya Batman terkejar. Pak Lurah tiba2 saja sudah berdiri di depan Batman. Tiba Batman merasakan seseorang menusuknya dari belakang. Pak Lurah? Bukan. Pak Lurah sih berdiri di depannya dari tadi juga. Batman menengok ke belakang, ternyata Doraemon lah yg menusuknya dengan senjata rahasia, cutter pemotong kertas. Batman jatuh bersimbah darah. Nyi Iteung pun berpindah tangan, dari tangan Batman ke tangan Doraemon. Koper hitam? Koper hitam berpindah ketek, dari ketek Batman ke ketek Doraemon.

“Mon, teganya dirimu. Kenapa?”
“Karena saya mencintai Nyi Iteung, Man.”
“Huhu. Kamu rela mengkhianati teman dan idealisme demi cinta, Mon? ”
“Man, demi cinta, sakit gigi pun aku rela.”
“Mon, lebih baik aku mati saja.”
“Mati aja Man. Gak usah bilang2.”
“Huh, tega!”

Hari itu, di pendopo desa, seminggu setelah pemakaman Bona a.k.a Batman Kasarung.
“Saya nikahkan Nyi Iteung binti Pak Lurah dengan mas kawin satu ekor kambing jantan, satu ekor sapi, sepuluh ekor ayam, dan lima belas ekor anak itik dibayar tunai.”
“Saya terima nikahnya Nyi Iteung binti Pak Lurah dengan mas kawin satu ekor kambing jantan, satu ekor sapi, sepuluh ekor ayam, dan lima belas ekor anak itik dibayar tunai.”
Asep, sang pengkhianat, menikah dengan wanita pujaannya dan hidup bahagia. Pak Lurah sang koruptor, melenggang kangkung sebagaimana halnya banyak koruptor2 Indonesia lainnya. Bona a.k.a Batman Kasarung, sang pembela kebenaran, mati. Seperti banyak pahlawan lain di bumi Indonesia ini, tanpa imbalan, tanpa tanda jasa. Persis seperti pepatah mengatakan, ‘Berakit-rakit kita ke hulu, berenang kita ketepian. Bersakit dahulu, senang pun tak datang, malah mati kemudian.’
Jangan kaget, jangan heran. Kisah ini bukan terjadi di negeri dongeng, dimana pembela kebenaran selalu menang. Kisah ini terjadi di bumi indonesia, negeri para penipu, surga para koruptor.

Wednesday, April 18, 2007

Tukul

Tukul Arwana.

Siapa yg gak kenal dia sekarang. Gw denger2 dari temen, bayaran tukul sekali tayang itu 20 juta. Kalo seminggu ada 5 kali tayang, dan sebulan ada 4 minggu, berarti penghasilan tukul per bulannya adalah 20x5x4 = 400 juta!!!
Itu baru bayaran dari empat mata. Belum dari iklan. Belum dari yang lainnya.
Penghasilan Tukul lebih gede dari gaji partner di KAP tempat gw kerja. Gila. Padahal supaya bisa jadi partner bukan perjuangan mudah. Seringkali harus mengorbankan waktu buat keluarga dan diri sendiri buat kerja.

Kenapa Tukul bisa sukses?
Gw juga gak tau sih. Gw gak ngikutin juga perjuangan dia dari awal. Yg jelas hampir semua orang sepakat kalo Tukul emang lucu. Gw juga sepakat kalo Tukul emang lucu. Hampir setiap malam, kalo sempat, acara empat mata - nya Tukul gw tonton. Tapi yg jelas menurut gw, Tukul bukan hanya lucu, dia hebat. Kenapa hebat? Karena dia pintar menjual diri. Dia bisa menjual diri even dia gak punya sesuatu yg special. Tampangnya jelek, dia jual tapang jeleknya. Bahasa inggrisnya pas-pasan, ya dia jual bahasa inggrisnya yg pas-pasan itu. Dia dari kampung, ya dia jual ke-kampung-annya itu. Hebat kan?!
Selama ini yg gw tau, orang hanya akan menjual apa yg dia punya. Kalo orang ganteng, ya dia bakal jual tampang gantengnya. Kalo orang pinter, ya dia bakal jual otak pinternya. Kalo ganteng gak, pinter gak, ya apa boleh buat. Hehe.
Gw juga gak yakin Tukul bakal bertahan lama. Suatu saat, apalagi acara empat matanya digeber senen-jumat, orang bakal bosan. Itu gw rasa udah lumrah di dunia entertainment. Dan Tukul juga sadar akan hal itu. Makanya sekarang mumpung masih laku dia abis2an.

Eniwei, salut buat Tukul. Harus banyak belajar dari dia. Mungkin bukan belajar ngelucunya, tapi belajar gimana caranya ngejual diri kita dan yakin bahwa kita punya potensi u/sukses even saat diri kita gak punya sesuatu yg special.

Tuesday, April 17, 2007

IPDN


Ini sekolahan suka aneh. Udah pernah ada kasus dulu, eh, bikin kasus yg sama lagi. Gak kapok-kapok.Gw ada beberapa pertanyaan sih seputar IPDN.

Kesatu. Apakah perlu seorang camat dilahirkan dari IPDN? Emangnya kampus lain gak bisa melahirkan seorang camat ya? Kalo kepemimpinannya bagus dan rakyat suka, kenapa gak ya?

Kedua. Apakah perlu sebuah IPDN itu sekolah berasrama. Kenapa gak kaya kampus biasa aja ya? Kenapa harus berasrama?

Ketiga. Apa hubungannya segala tetek bengek gaya militer dengan lulusan yg diharapkan kelak? Apa nanti seorang camat harus dihormat gaya militer sama bawahannya atau rakyatnya?

Keempat. Kenapa harus ada kekerasan di IPDN? Emangnya camat mau disuruh perang apa? Emangnya camat ntar mau mukulin/nendangin rakyatnya? Kalo ada kekerasan di akademi militer sih gw masih ngerti. Mereka kan tentara. Someday mungkin bakal perang ngebela negara ini.Lha kalo camat? Gak masuk akal.

Menurut gw sih, IPDN mending dibubarin aja. Camat kan gak perlu dari satu sekolahan. Yang penting dia bisa mimpin. Orang bupati dan gubernur aja gak ada sekolahannya kok. Kenapa camat harus ada sekolahannya?

Udah, bubarin aja deh Pak IPDN nya. Buang2 duit.

Thursday, November 02, 2006

Bona dan Celana Pendek Merah Muda Motif Bunga-Bunga

Ini adalah kisah tentang seorang laki2 dan celana pendek warna merah muda motif bunga2 yang mengubah jalan hidupnya. Kamu gak akan menemukan kisah ini di buku PSPB, harian Lampu Merah ataupun koran Kompas. Jadi simak kisah ini baik2, karena mungkin kisah ini akan mengubah hidupmu dan saya gak akan menceritakan kisah ini dua kali.

Nama laki2 itu adalah Encep Subona. Panggilannya Bona. Bona adalah jejaka asli sunda. Asli sunda karena ayahnya adalah sunda garut dan ibunya adalah sunda cililin. Asli sunda karena sejak dilahirkan, SD,SMP, SMA, bahkan sampai kuliah pun, Bona habiskan di tanah priangan. Asli sunda karena dalam sehari Bona menghabiskan lalapan lebih banyak dari kambing manapun. Asli sunda karena Bona seringkali memberikan akhiran –h secara tidak perlu terhadap banyak kata seperti:
- sayah
- kamuh
- guah
- luh
- priah
- wanitah
- kuah
- buah
- gagah
- lemah
- payah
- ramah
- lurah
- dan sebagainyah

Bona adalah salah satu contoh bentuk kehidupan hampa dimuka bumi ini yang kegiatannya berkisar antara makan, tidur, dan mengupil. Berkulit coklat sawo terlalu matang, rambut keriting gondrong mirip Tom Hanks dalam film Cast Away, dengan raut muka tirus tak terurus dan bulu hidung menjulur-julur keluar, Bona yang berstatuskan mahasiswa ini menghabiskan 21 tahun hidupnya dalam keadaan jomblo. Bukan. Bona bukan lah jomblo karena pilihan. Bona adalah jomblo karena keterpaksaan. Satu2nya aktifitas yang memberikan warna dalam kehampaan hidupnya adalah menonton pertandingan Persib Bandung (yang nyaris terseret pada zona degradasi) dan menonton konser Pas Band.
Hari itu adalah ulang tahun Bona yang ke-21. Bona masi tertidur pulas ketika tiba2 ada seorang wanita berumur pertengahan 30 masuk ke dalam kamarnya. Dan wanita itu langsung menjerit keras.

“Bonaaaa! Kamuuu?!”

Bona terbangun. Dia membuka matanya, memandang ke langit2 kosnya, menatap poster Britney Spears dalam balutan bikini merah jambu yang warnanya sudah mulai pudar (mungkin karena keseringan diliatin). Bona tersenyum dan meneruskan tidurnya.

”Bona !!!”

Bona pun terbangun. Benar2 terbangun kali ini.

“Eh, tanteh. Kok tante bisa disinih ?”
“Kamu!?!! Kamu kenapa tidur gak pake celana ?”
“Hmm,, biar adem mungkin tanteh. Tante kenapa kok bisa disinih?”
“Jantung kakekmu kambuh lagi. Ia sekarang sedang dirawat di ICU. Kakekmu ingin sekali bertemu sama kamu. Ia mungkin gak punya banyak waktu lagi.”
“…”
“Kok malah bengong? Ayo cepet ikut tante ke rumah sakit.”
“Iya tanteh. Tapi sebentar yah tante.”
“Gak pake sebentar2. Udah gak usah mandi. Mandinya nanti aja. ”
Bukan tanteh. Anu. Sayah pakai celana dulu yah tante.”

Dalam keadaan rambut kribo, mulut bau naga, baju bau singa, dan ketek asam manis, Bona yang sudah bercelana meluncur bersama tantenya langsung menuju rumah sakit tempat kakek bona dirawat. Disana sudah berkumpul sanak saudara mengelilingi tempat tidur kakeknya. Ketika kakek tahu Bona sudah datang, kakek meminta semuanya supaya meninggalkan ruangan. Kakek ingin berbicara empat mata dengan Bona.

“Bona, uhuk-uhuk… ”
“Ya aki… ”
“Kamu belum mandi yah? Uhuk-uhuk. Kamu bau sekali.”
“Ya aki. Sayah emang blum mandi. Tadi buru2 kok kesininya aki.”
“Bona, huk, huk ,huk… Kemari. Huk, huk, huk. Ayo lari – lari.”
“???”
“Maaph Bona. Aki OOT niyh. Out Op Topik. Bona, hidup aki gak akan lama lagi. Uhuk- uhuk. Jadi dengarkan perkataan aki baik2. huk.”
“Ya aki…”
“Bona. Tadi malam aki dapat wasiat dari leluhur. Huk-huk. Demi keberlangsungan garis keluarga kita, kamu harus pakai jimat ini setiap hari. Huk. Jimat ini hanya boleh dilepas pada hari jumat kliwon. Kalo tidak kamu pakai, kamu akan dikutuk mencret seumur hidup. Kalo kamu pakai, kamu akan mendapat hoki besaaarrr.”
“Jimat apa aki ?”
“Ini.”

Bona pun membuka bungkusan yang ditunjuk aki. Mata Bona terbelalak ketika melihat isi bungkusan itu. Celana pendek warna merah muda motif bunga-bunga. Bona hendak protes.

“Tapi aki!? Aki. Akiiiii…”

Aki gak menjawab. Mata aki sudah terpejam selamanya dan bibirnya menyunggingkan senyuman. Mungkin aki merasa lega sudah menyampaikan amanat terakhirnya. Mungkin aki udah merasa tenang karena yakin cucunya akan selalu pakai celana ketika tidur. Mungkin juga aki merasa senang udah bisa ngerjain cucu nya disaat-saat terakhirnya.

Bona termenung. Termenung karena bersedih karena kehilangan aki-nya yang dia sayangi. Termenung karena berpikir keras, berusaha mencari korelasi antara memakai celana pendek warna merah muda motif bunga-bunga dan mendapatkan hoki besar. Mungkin kalo celana pendeknya berbahan kulit ketat dengan motif kulit harimau Bona akan maklum karena Bona percaya celana pendek seperti ini akan menarik hati banyak wanita. Tapi korelasi antara celana pendek merah muda motif bunga-bunga dan hoki besar sungguh sulit dimengerti. Walau bagaimanapun ini adalah wasiat terakhir aki-nya, dia harus penuhi. Bona tidak ingin melanggar wasiat terakhir kakeknya. Selain itu, Bona pun gak ingin dikutuk mencret seumur hidup. Mendingan juga dikutuk tampan, kaya, dan berkuasa daripada dikutuk mencret, pikir Bona.
Maka dipakailah celana pendek warna merah muda motif bunga-bunga setiap hari. Dan Bona hanya mencuci celana ini sebulan sekali, setiap jumat kliwon.

Bona pun kembali menjalani kehidupannya yang jomblo dan hampa serta gak lupa memberikan sesajen setiap malam jumat kliwon untuk arwah kakeknya berupa sepiring nasi timbel lengkap dengan lauk gurame bakar + tempe goreng + lalapan + sambal cibiuk, secangkir kopi neskafe classic (gula 2 sendok teh), dan sebatang rokok djisamsoe filter.

Suatu saat ketika Bona sedang jalan2 di tepi sungai citarum, Bona mendengar teriakan seorang gadis cantik dari kejauhan diiringi suara blurrr. (Wait. How can he know she’s beatiful? Nevermind). Bona langsung menuju TKP dan melihat seorang Bapak2 berkumis lebat, berkesan jantan, dengan tato ular naga luar biasa panjangnya sedang berteriak2 menunjuk seorang gadis cantik yang megap2 ditengah sungai.

“Anak muda!”
“Yah, Pak Tua.”
“Jangan panggil Pak Tua. Panggil Om aja.”
“Iyah Om. ”
“Itu anak Om sedang megap2 di tengah sungai citarum. Coba yah tolong diselamatkan. ”
“Kenapah gak Om aja yang menyelamatkan ? Kan Om macho, berkumis lebat, dan berkesan jantan?”
“Ssssttt,, Om gak bisa berenang.”
“Jadi ituh tato ular naga luar biasa panjangnya buat apah Om?”
“Udah ah kamu jangan banyak omong. Selamatkan aja putri Om. Nanti kamu Om kawinkan sama anak Om satu2nya itu. Om orang kaya loh. Sawahnya aja luas dan punya 15 kos-kosan di daerah Sudirman.”
“Sudirman Jakarta Om?”
“Bukan. Sudirman Garut.”

Demi mendengar iming2 akan dijodohkan dengan putri si Om yang cantik jelita tiada tara (yang otomatis akan merubah status jomblonya) dan menjadi menantu dari seorang juragan kost, Bona pun dengan kasual serta merta melepas baju dan celana jeansnya. Dengan hanya menggunakan celana pendek merah muda motif bunga2 wasiat sang kakek, Bona segera melompat ke dalam sungai citarum dan menyelamatkan sang putri. Lalu Bona pun memberikan nafas buatan dan pijatan ke arah dada. Sebetulnya hal ini tidak perlu karena sang putri udah siuman. Tapi kapan lagi, pikir Bona. Huhuyy.

“Akang, makasih yah udah nyelamatin neng. Akang baik sekali. Neng mau nikah sama akang.”
“Iyah neng. Akang juga mau. Ngomong2 neng namanya siapah?”
“Nama neng, Neng Jumirna Kuriana. Panggil aja, Ina.”
“Nama akang Bon. Enc-Bon. Tapi panggil aja Bona.”

Akhirnya mereka bertiga, Bona, Neng Ina, dan Om-berkumis lebat-berkesan jantan- juragan kost2an (figuran gak penting, jadi gak perlu disebut namanya) berjalan menuju jalan raya, mencari taksi. Ketika mereka bertiga sedang menyebrang jalan, tiba2 ada truk besar dari arah sebelah kiri. Rupanya supirnya kaget melihat celana pendek Bona dan kehilangan kendali. Bona dengan kasual segera mendorong Neng Ina dan Om-berkumis lebat-berkesan jantan- juragan kost2an ke arah pinggir. Mereka selamat. Sayangnya Bona gak sempat menyelamatkan dirinya sendiri. Bona tertabrak, tergilas, dan terseret truk besar itu sampai sejauh 25 meter.
Bona mati mengenaskan.
Otaknya berceceran keluar dan matanya nyaris keluar. Tangan kiri putus, kaki kanan dari mulai lutut hilang entah kemana, paha kiri terlihat tulangnya, dan usus dua belas jari tertarik keluar.
Hanya celana pendek merah muda motif bunga2nya yang masih utuh.

Bona pun mati sebagai pahlawah bagi Neng Ina dan Om-berkumis lebat-berkesan jantan- juragan kost2an. Jasa Bona selalu dikenang oleh masyarakat RT01/RW02 desa sukamundur yang tinggal di sekitar sungai citarum. Celana pendek bona dijadikan bendera dan dikibarkan setengah tiang, sebagai peringatan agar supir2 gak ngebut di jalanan.


Moral cerita:
Buat cowok2, jangan pernah pakai celana pendek merah muda motif bunga2. Norak.

NB:
Dedicated for my old friend, Junius Bona Siahaan. Gancang lulus euy!!!!

Kejurda Tarung Derajat DKI 2006



Watched Tarung Derajat tournament.

Dissapointed.

There's no blood.

There's no broken leg.

There's no black and blue face.

There's no spectacular action.

Too soft for a sport called "Full Body Contact"!!!!

I should've watched ballet competion instead!

Boring.

Wanna see a true Full-Body-Contact...